By Ibnoe
"Catatan Bang Regar"
semburat kertas lusuh menemani ku berhari hari disini
biarlah kau tidak bertanya dan melihat lagi
biarlah kau tersenyum tanpa peduli arti
aku yg menyapa tanpa kecuali, kau yg tak ingin pahami
dan masih, simpan saja lah, aku enggan ambil peduli
mungkin suatu saat kau masih merindukan ku nanti
tapi biarlah kutinggakan semuanya disini
karna niat diri telah kuhaturkan
resiko meminta adalah ditolak dan di telantarkan
direntang waktu menimbang rasa cukup rasanya
dari sudut logika, wajar tanpa pengecualian nyata
dari sudut asa, ada batas waktu titik sela
meski tak sontak kau jawab atas bingungnya sejuta tanya
akupun mahfum atas keberadaan mu yg terhimpit aroma kata
dan nyatalah bahwa kita memang berbeda
antara PUJANGGA KELANA
dan PUJANGGA PEMBUTA MAKNA
karna bagiku, suara hati adalah bahasa mulut
yg tlah ku torehkan sebanyak kalap secuil lembut
meski dinadiku mengalir darah pujangga
tak pandai pula kulakonkan sandiwara
apalagi merayu dengan sejuta mimpi gelap hati
aku cuma bisa berperan, sesuai ketentuan sejatinya diri
meradang garang saat marah, nyawakupun kupertaruhkan
tuk jadi selimut kebahagiaan semua oroma rasa joretan
tapi kini terlalap punah di lumbung kalam kepalsuan
kini biarlah ku undur diri
kukemasi puing puing kekecewaan ku dari tempat ini
meskipun harus melata lata digelapnya gulita
dan biarlah kupunguti kembali catatan yg berceceran di harap diri
inilah cinta, mewarna apa adanya resiko terluka
dan dari sejumlah kecewa takkan lagi akan meminta
kukembalikan benih rindu yg kau tanam bernama cinta
di bilik CORETAN PENA PUJANGGA yg bimbangkan sejatinya
pada sukma sekeping hati yg kau genggam musna tersia
tak guna lagi mengikuti sandiwara yg percuma
biarlah kusemai diladang baru dan kembali berkelana
terlalu sakit hingga aku pamit dengan setuja kecewa
biarlah kau tidak bertanya dan melihat lagi
biarlah kau tersenyum tanpa peduli arti
aku yg menyapa tanpa kecuali, kau yg tak ingin pahami
dan masih, simpan saja lah, aku enggan ambil peduli
mungkin suatu saat kau masih merindukan ku nanti
tapi biarlah kutinggakan semuanya disini
karna niat diri telah kuhaturkan
resiko meminta adalah ditolak dan di telantarkan
direntang waktu menimbang rasa cukup rasanya
dari sudut logika, wajar tanpa pengecualian nyata
dari sudut asa, ada batas waktu titik sela
meski tak sontak kau jawab atas bingungnya sejuta tanya
akupun mahfum atas keberadaan mu yg terhimpit aroma kata
dan nyatalah bahwa kita memang berbeda
antara PUJANGGA KELANA
dan PUJANGGA PEMBUTA MAKNA
karna bagiku, suara hati adalah bahasa mulut
yg tlah ku torehkan sebanyak kalap secuil lembut
meski dinadiku mengalir darah pujangga
tak pandai pula kulakonkan sandiwara
apalagi merayu dengan sejuta mimpi gelap hati
aku cuma bisa berperan, sesuai ketentuan sejatinya diri
meradang garang saat marah, nyawakupun kupertaruhkan
tuk jadi selimut kebahagiaan semua oroma rasa joretan
tapi kini terlalap punah di lumbung kalam kepalsuan
kini biarlah ku undur diri
kukemasi puing puing kekecewaan ku dari tempat ini
meskipun harus melata lata digelapnya gulita
dan biarlah kupunguti kembali catatan yg berceceran di harap diri
inilah cinta, mewarna apa adanya resiko terluka
dan dari sejumlah kecewa takkan lagi akan meminta
kukembalikan benih rindu yg kau tanam bernama cinta
di bilik CORETAN PENA PUJANGGA yg bimbangkan sejatinya
pada sukma sekeping hati yg kau genggam musna tersia
tak guna lagi mengikuti sandiwara yg percuma
biarlah kusemai diladang baru dan kembali berkelana
terlalu sakit hingga aku pamit dengan setuja kecewa


No comments:
Post a Comment