"Catatan Bang Regar
UNTAIAN KATA YG KU TITIPKAN PADA SEORANG SAHABAT PENA KU TUK SELURUH SAHABAT PENA KU DI SEBUAH KEDIAMAN YG MENUAI MAKNA DI KELAM MALAM KELABU, “TER-UNTUK DIRIMU DLM SATU WAJAH SERIBU RUPA HINGGA AKU MEMECAH TUK SATUKAN MAKNA”…
aku datang bukan untuk yg kedua kalinya...
tetapi hening malam bisikkan padaku...
ada yg masih tersembunyi di situ...
dalam bisu-membisu yg masih samarkan rindu...
dan aku hanya ingin menjadi apa yg ku mau...
tanpa harus meminjam senadapun darimu...
senarmu yg kini semakin kaku...
aku datang bukan pada yg kedua kalinya...
tetapi renung jelmakan arti padaku...
ada yg masih tersimpan di situ...
dalam bait-baitmu yg masih bisikkan rindu...
dan aku tetap ingin menjadi apa yg ku mau...
tanpa harus meminjam sebaitpun darimu...
syairmu yg kini semakin layu...
disatu sisi…
bila lautmu memutih dan pasirmu membiru
haruskah turuti senarmu yg bermelodi sumbang…?
perahu yg retak bertambal kayu yg rapuh…
nanandakan aksaramu yg lumpuh…
disisi lain…
bila gerbangmu terkunci dan rasamu hanya ngilu…
haruskan ikuti syairmu yg bernuansa kebimbangan…?
busurmu yg patah bersambung kulit lusuh…
menandakan benakmu yg keruh…
dalam aksara yg lumpuh…
di dalam benak yg keruh…
bilakan embun pagi menyejukkan…?
atau mata di ufuk timur menyengatkan…?
atau raksa kristal akan menggilkan…?
atau senja yg membisu menandai kepunahan…?
tetapi hening malam bisikkan padaku...
ada yg masih tersembunyi di situ...
dalam bisu-membisu yg masih samarkan rindu...
dan aku hanya ingin menjadi apa yg ku mau...
tanpa harus meminjam senadapun darimu...
senarmu yg kini semakin kaku...
aku datang bukan pada yg kedua kalinya...
tetapi renung jelmakan arti padaku...
ada yg masih tersimpan di situ...
dalam bait-baitmu yg masih bisikkan rindu...
dan aku tetap ingin menjadi apa yg ku mau...
tanpa harus meminjam sebaitpun darimu...
syairmu yg kini semakin layu...
disatu sisi…
bila lautmu memutih dan pasirmu membiru
haruskah turuti senarmu yg bermelodi sumbang…?
perahu yg retak bertambal kayu yg rapuh…
nanandakan aksaramu yg lumpuh…
disisi lain…
bila gerbangmu terkunci dan rasamu hanya ngilu…
haruskan ikuti syairmu yg bernuansa kebimbangan…?
busurmu yg patah bersambung kulit lusuh…
menandakan benakmu yg keruh…
dalam aksara yg lumpuh…
di dalam benak yg keruh…
bilakan embun pagi menyejukkan…?
atau mata di ufuk timur menyengatkan…?
atau raksa kristal akan menggilkan…?
atau senja yg membisu menandai kepunahan…?


No comments:
Post a Comment