"Catatan Bang Regar"
untaian kata yg ku titipkan pada seseorang buat seseorang dari seseorang tuk menepis kesan dalam syairnya...
apa hebatnya bait-bait cinta…?
adakah kau melihat kesantunan di situ?
bukankah itu hanya rangkaian kata?
kadang hanya ngelantur atau kadang punya 1000 makna…
tapi ini bukan ttg semua itu…!
untuk menjadikannya hebat…?
menjadi santun…
menjadi indah…
menganggap ini kurang bermakna…
cuma roman picisan, atau apalah, atau mungkin menjadi uang…!
ini bukan ttg semuanya itu…!
aku yakin kamu lebih ngerti hal itu…!
--- --- --- --- --- --- --- ---
Tukas "Bang Regar"
Lihatlah…!
tiba-tiba kau datang berucap santun seolah penuh malu…
dari celah udara kamar tidur yg dingin membeku…
bahwa kau adalah pelantun dalam kurun waktu yg berduka pilu…
dan kau membelai kehangatannya mendekap satu…
yaitu satu kebohongan yg terpadu…
ditempat lain napas di selaput tawa ku tadahi…
tuk membasmi airmata yg tercerai berai…
tuk membasmi airmata yg tercerai berai…
niscaya kisi-kisi nya adalah syair yg penuh arti…
yg penuh sesaki dalam gelas tak berisi…
meringkus ia tak menepi memberangus dalam sepi…
yg penuh sesaki dalam gelas tak berisi…
meringkus ia tak menepi memberangus dalam sepi…
adalah aku si penyair yg berpesan dengan lirih…
niscaya diksi-diksi nya adalah pintu ajaib…
yg ku buka lebar-lebar agar tak raib…
tapi tiba-tiba lain waktu kau hadir bak benalu…
metafisiknya lusuh selendangkan rindu…
tubuhnya terbelit gigi nya beradu…
oh sungguh terlalu, syair mu cuma semakna keluh…
dan cinta memfosil, lukanya membugil…
beralur tajam kerikil, ditemani kaku kian gigil…
hingga aku si penyair terpanggil dari setapak jejak kecil…
lalu berbagi hentakan kalam-kalam kecil…
niscaya diksi-diksi nya adalah pintu ajaib…
yg ku buka lebar-lebar agar tak raib…
tapi tiba-tiba lain waktu kau hadir bak benalu…
metafisiknya lusuh selendangkan rindu…
tubuhnya terbelit gigi nya beradu…
oh sungguh terlalu, syair mu cuma semakna keluh…
dan cinta memfosil, lukanya membugil…
beralur tajam kerikil, ditemani kaku kian gigil…
hingga aku si penyair terpanggil dari setapak jejak kecil…
lalu berbagi hentakan kalam-kalam kecil…
tapi hanya semburat kertas lusuh yg menemani ku berhari-hari…
lalu ktk aku pergi lebih tiba-tiba dari hadir ku dengan
tertatih…
berserah, memapah, tengadah, sia akhirnya…
dan rindu yg ku tinggal disini kan menjadi jejak sang
penyair…
yg aku kecap di setiap goresan penamu yg terkilir…


No comments:
Post a Comment