
SEPERTI PENA TANPA TINTA
Duduk diberanda tua ketika siang, senja dan malam, tak kunjung usai menyuguhkan akrasa yg bertumpang tindih...? Bagai kata-kata yg hanya memoles bibir semata...
Tak memperdulikan waktu yg memanggil, jari jemari terus menumpahkan huruf-huruf di sudut benak. Tidakkah semestinya bergegas, atau jika memang tak semestinya bergegas, bukankah selayaknya diam sejenak...
Dan jika diantara debu debu itu masih ada waktu yg berjelaga, bukankah tak semestinya mengutamakan kalam diri, tetapi selayaknya pahamkan atas ucapan hati...
Karna alam sudah mencontohkannya, tatkala hujan, maka akan hadir suhu dingin dan tatkala mentari menatap dengan sepenuh matanya, maka akan timbul panas, tidakkah tertangkap sebab musababnya...
Maka jika inginkan kebaikan, kenapa tak beranjak dari aksara yg bertumpang tindih tersebut...? Menulisi hingga menghapus, tak beda seperti "menorehkan pena tanpa tinta"... kosong...
~230114~

No comments:
Post a Comment