Karna Luapan Emosi dan Perasaan dari seseorang yg hatinya terbelenggu dalam kehidupan ini. Kemudian semuanya dituangkan dalam sebuah kumpulan syair yg tercipta pada malam menjemput subuh. Dengan mencerminkan ungkapan hati yg paling dalam, maka berlayarlah sekeping hati itu yg inginkan haluan pada sepenggal kisah yg menanti. Dan tanpa merasa diriku yang terbaik, kini semuanya kupersembahkan kepada orang-orang yg mengerti akan arti keterbatasan seorang manusia. Hingga mungkin kau dapat menemukanku disini, dalam catatan ini...
--- --- --- --- ---

Menara diatas puncak kesunyian
Terbakar sudah oleh mentari yang bersinar
Jiwanya bergetar walau nada tanpa senar
Pada ruas kehidupan yang mengalir selayaknya arus
Hati yang menatap mustika di balik nada-nada tandus
Dalam sepenggal kisah penantian qalbu yg bersyair
Daun tirai kasih yang menetes dihujung mata air
Sambut embun di kala membunuh malam yg terlelap
Saat desis-desis angin kembali menerpa wajah yg tersingkap
Daun tirai kasih yang menetes dihujung mata air
Sambut embun di kala membunuh malam yg terlelap
Saat desis-desis angin kembali menerpa wajah yg tersingkap
Tetapi tatapan itu kembali sunyi...
Lengang tanpa jawaban yang berarti...
Dan selembar daun luruh di hujung ranting kering...
Gugurkan langkah namun mencipta emosi diri...
Merajut kata pada malam tanpa hening...
Syair-syair ini terus mengalir walau tertatih
Ntah yang keberapa hingga kapan kan berakhir
Tuk selusuri sepenggal kisah teramat perih
Dibalik jeruji hati yg bersuara dalam syair
By Ibnoe @ Medan, 14 Oktober 2004



No comments:
Post a Comment