"Catatan Silam, 3"

Luapan emosi & perasaan dari seseorang yg hatinya terbelenggu dalam kehidupan fana ini yg tertuang dalam sebuah kumpulan puisi di keheningan malam yg menjemput impian subuh. Dengan mencerminkan ungkapan hati yg paling dalam, maka berlayarlah sekeping hati itu tuk mencari secerca harapan. Tanpa merasa diriku yang terbaik, kini semuanya kupersembahkan kepada orang-orang yg mengerti akan arti keterbatasan seorang manusia. Hingga mungkin kau dapat menemukanku disini, dalam catatan ini... “CATATAN CINTA & QALBUKU”.


Medan, 2006 @ By Ibnoe


TERSIMPAN OLEH WAKTU

Waktu...
Kian membawaku dalam kisah yang menanti
Pada hati yang redup akan sebuah alasan
Dibalik sinar yang datang mendekap tanpa sengaja
Layaknya arus... yang kian mengalir tenang

Hati ini smakin sesak...
Dipenuhi oleh berjuta harapan pada mu...
Dari alur yang berbeda pada awal kisah yg tak sama...
Karna semua yg ada pada dirimu...

Kelembutan bahasamu... tlah menggugah lamunanku...
Perhatianmu... kian melemahkan setiap egoku, dan...
Pribadimu... Hatimu... yang penuh akan kasih-Nya...

Adalah awal dalam derap langkahku
Awal yang tiada ku duga, akhir yang tiada terfikir
Nyatakah ini karna Anugrah-Nya...?

Hati ini hanya mampu bertanya di keheningan malam...
Dan... Mungkin hanya kau dan Dia yang tahu...
Sebab kata di hati ini masih tersimpan oleh waktu



GEJOLAK YG TERTAHAN

Rintik hujan alunkan sebuah melody...
Walau nadanya sayup & tak beraturan...
Namun tetesnya mencatatkan sebuah lirik hati...
Dan kurangkai dengan merasakan getar hatimu...
Pada langit yang menyentuh bumi dari setiap tetesnya...

Seiring debar jantung ku...
Di hembusan angin pada tiap belaiannya...
Gulita malam mengecup bumi ke lubuk hati…
Mata terpejam, ingin bisikkan gejolak yang tertahan...
Di setiap senyum dari sinaran di wajahmu…

Aku kian merasakannya...
Namun kata dalam bibir terkatub...
Ada rindu yg slalu terbuai angan...
Dan cinta tak berdaya dlm jiwaku yg kalut ...
Hanya sebuah doaku, tuk sampaikan dlm mimpimu...

Hahhh... Jiwa ini hanya memiliki sekeping hati...
Tapi bilakah... bilakah keberanian menghampiriku...
Walau berjuta kata tlah kurangkai untukmu...
Namun hilang ditelan pekatnya malam...

Hingga ketika rintik hujan terhenti...
Lelahku hanya berteman bayanganmu...
Hingga waktu membawaku kedalam buaian mimpi...



MISTERI QALBU

Dua mahligai yang menembus qalbuku
Menyerap berjuta angan yang mengusik lamunanku
Yang menyiratkan misteri langkah tujuan hidupku
Dari sebuah titik yang menuju pd haluan waktu

Walau semua itu tampak mengalir tenang…
Namun hati ini takkan bisa tinggal jejak…
Suaranya begitu indah dan menggetarkan jiwa…
Namun aku tak ingin karam dan membuat lukanya…

Begitu ingin kutatap mustika di hatinya
Seraut wajah menutupnya dengan tirai harapan
Ingin ku sulut menjadi bara tuk membakar semuanya
Namun kesejukan hatinya padamkan selayaknya embun

Ketika dekapannya semakin memeluk manja…
Tetapi dia bukan datang dari hati yang ku inginkan…
Ingin kupejamkan mata agar tidak lagi melihat keduanya…

Karna tak ingin ku melukakan akan tulus hatinya…
Tak ingin ku telantarkan akan cinta yg kian merasuki hati…
Karna aku tak ingin memilih…

Biarlah sang waktu yg pilihkan terbaik untukku
Allahuallam…



PUJI-PUJI

Untuk apa benda-benda itu kalau hanya menimpukku
Untuk apa puja-puji itu kalau hanya menipuku
Aku punya jasa-jasa? Salah! Cuma pura-pura!

Sanjungan, pujian...bukan itu tujuan
Semua kostum tipuan...semua hujan ujian
Pujian salah alamat...bukan untukku bukan juga kau

Siapa berhak pujian?
Dia yang membuat semua...Dia yang mengatur semua
Dia yang memelihara semua...

Dia yang sempurna
Dialah yang berhak pujian...



CERMIN PENYESALAN

Saat kutatap Cakrawala Mu...
Seakan aku berkaca pada Cermin keAgungan MU
Yang aku malu tuk menatap diri
Aku malu berdiri dihadapan Mu

Betapa aku ini kecil dari Kuasa Mu
Berdiri Angkuh dengan segala kesombonganku
T'lah kusadari, banyak sekali cumbu dan rayu
Menyeretku semakin jauh dari Mu
Izinkanlah aku kembali dalam Genggaman Mu...
Yang suci...Diatas sejadah kecilku ini

Terimalah Taubat serta rasa penyesalanku ini, Ya Allah...
Lihatlah diriku yang bersimpuh memohon Ampunan Mu
Kasihanilah aku...Terangilah jalanku dengan Cahaya Mu
Bimbinglah aku didalam setiap derap langkah

Ya Robbi...
Kuserahkan segala Jiwa dan Raga ini...
Hanya untuk mengharap Ridha Mu...
Didalam aku menuju Kampung Akhirat Mu...



DUHAI HATI

Bawalah aku dalam laut-Mu
Tenggelam di antara air yang bergelombang
Menatap wajah-Mu yang penuh keindahan
Seperti waktu yang beranjak menuju ke titik kelam

Bawalah aku dalam buayaian-Mu
Cintailah aku dalam cinta-Mu
Lindungilah aku dalam dekapan-Mu

Ya Allah, hidupku hanya menunda waktu yang sesaat
hanya untuk mengabdi kepada-Mu seperti mereka yang kaku
Tinggalkan azab dan fana
Maka matikanlah aku dalam syahid-Mu

Ketika gelombang air laut sampai pada pantai yang berpasir
Masihkah aku dalam cinta-Mu
Seperti-Mu menidurkanku dalam kekalahan yang abadi
Ya Allah... aku mengabdi kepada-Mu



LAUTAN KEKECEWAAN

Setetes embum dalam selembar kertas
Berjalan kisah yg membakar hati ditepian kasih
Seiringan jantungku yg semakin berdebar kencang, Desah hati dalam kekecewaan pada dirimu
Dengan kebisingan malam yang semakin memuncak

Tatap dirimu yg hanya mampu diam memendam asa, Menunggukah atau semuanya harus dilupakan…? Namun, knp harus berlalu ibarat senja…? Barisan kata yg masih tersimpan di hati ini

Mungkinkah akan berlalu sebelum sempat kau baca…? Cinta yg tlah engkau tanamkan dihati, kini kian layu..! Sebab kau meneteskannya dgn air yg penuh racun...

Walau bibir masih terkunci…
Bukankah engkau paham pada bening-bening embun
Dalam hari yang kau hitung seiring doamu
Maka, jangan jadikan cinta ini pengikis jantungku
Karna dirimu telah ada disana…

Sudikah kau melihatku terluka tanpa penawar…?
Sebab suaramu tak lagi mampu menggetarkan qalbuku
Karna telah terbakar oleh kepalsuan yang kau ciptakan
Dalam pandangan yang terurai ketika sujudku

Kini diriku semakin karam oleh air mata palsumu
Dan raga ini semakin sesak karna dirimu tanpa kata
Inikah yang kau namakan cinta…?
Menitipkan noda pada hati yang inginkan kesucian

Bahkan…
Langitpun tampak buram…
Gemintang pun engan tuk menyapa
Hingga gemawan teteskan air kemurkaan…
Yg mengiringi detak jantungku…
Bagai menghitung hari padamu…
Yang merubah air mata sesal menjadi lautan kekecewaan








No comments:

Post a Comment

Viewers