Ketika ku sedang menaksir hitungan maut di tanganku
sendiri, ku baca dengan seksama setiap nafas yg berhembus pada gigil
garis-garisnya. Ku tabung dengan rapi sengkurat jejaknya yg luput ku kecap.
Angin pun melolong di tepian ngarai waktu yg tengah
memburu jantungku. Parau, bagai embun yg
gagal mengenang daun-daun pagi…
Aku yg masih menaksir hitungan maut, sesekali jatuh di kesenyapan dingin bibir malam, bilangan-bilangan bernama tersungkur di setiap pucuk-pucuk jemari bersungkur dahi. Dosa-dosa ku menyulut api membakar dingin subuh yg mengendap di lidahku. Tungku yg ku tinggalkan bertahun-tahun, menunggu giliran mati sewaktu-waktu…
Aku yg terus menaksir maut di dadaku, tak ingin lunglai menangkup gambar sunyi wajah Penciptaku. Walau lelah tak berkesudahan, gending tangis masa lalu berdesingan, menikam hening paling malam di kepalaku dalam aku menghitung maut di pelukan waktu ku…
Aku yg masih menaksir hitungan maut, sesekali jatuh di kesenyapan dingin bibir malam, bilangan-bilangan bernama tersungkur di setiap pucuk-pucuk jemari bersungkur dahi. Dosa-dosa ku menyulut api membakar dingin subuh yg mengendap di lidahku. Tungku yg ku tinggalkan bertahun-tahun, menunggu giliran mati sewaktu-waktu…
Aku yg terus menaksir maut di dadaku, tak ingin lunglai menangkup gambar sunyi wajah Penciptaku. Walau lelah tak berkesudahan, gending tangis masa lalu berdesingan, menikam hening paling malam di kepalaku dalam aku menghitung maut di pelukan waktu ku…
~251213~
On Facebook


No comments:
Post a Comment