NYANYIAN SUARA HATI
DIAMBANG PENGHUJUNG DESEMBER
DIAMBANG PENGHUJUNG DESEMBER
Kumpulan kumpulan nyanyian hati di musim penghujan, tertinggal di jajaran semburat kertas lusuh yg tlah tercabik cabik berserakan. Menjadi kertas-kertas yg tanpa coretan tuntas, menggeliatkan wajah sang penyair yg kini tampak pias. Karna sekian waktu karyanya tak cipta, tak terberi nyata, bak matinya naluri seorang pujangga…!
Goresannya seolah tak mengalir menuai arti, di dinding-dinding hampa saat cinta terpuruk dalam injak kata. Walau bait-bait lama tlah aliri nadi-nadi membentuk dalam indahnya penantian dan sastranya hidup, melebur dan membaur dalam heningnya kepasrahan. Namun kini dengan cinta yg hanya berharap di lubuk asa, apalah guna…!
Diantara persinggahan malam itu tlah terlukis bayang qalbu semakin muram. Saksikan biduk perlahan karam, membawa segala rasa jauh tenggelam. Pedih, leleh, dipelupuk mata jadikan lidah kelu terbata, segalanya serupa derita padam sudah cercah pelita, yg tlah memperlihatkan seolah raga tanpa nyawa, seonggok tubuh tiada berjiwa, yg ntah kemana damai itu dibawanya yg tlah menghapuskan segala gelak tawanya…
Tak lagi menggenangkan limpahan arti dan makna, tak lagi menanti terbit yg selalu gantikan warna hitam lembar langit. Hanya sirnakan harap yg kian menghimpit dikala rona cinta semakin terjepit. Yg begitu sulitnya menata hati, seiring suara hatinya di hujung torehan jemari yg tak kunjung temui cinta sejati. Hingga di sebuah nyanyian suara hati di ambang penghujung desember ini, sang penyair menggantungkan penanya atas kepunahan cahaya kerinduan yg entah kemana berlari...
Karna denyut kerinduan sang bidadari enggan menyimpan rasa peduli, di penghujung nafas cintanya yg meredupkan suara hati, seolah menghidupkan sunyi dengan tiada merasa lagi, tak berharap diri, hingga jutaan kata yg tertatah, melata lata yg memenuhi sesalan diri...!
Goresannya seolah tak mengalir menuai arti, di dinding-dinding hampa saat cinta terpuruk dalam injak kata. Walau bait-bait lama tlah aliri nadi-nadi membentuk dalam indahnya penantian dan sastranya hidup, melebur dan membaur dalam heningnya kepasrahan. Namun kini dengan cinta yg hanya berharap di lubuk asa, apalah guna…!
Diantara persinggahan malam itu tlah terlukis bayang qalbu semakin muram. Saksikan biduk perlahan karam, membawa segala rasa jauh tenggelam. Pedih, leleh, dipelupuk mata jadikan lidah kelu terbata, segalanya serupa derita padam sudah cercah pelita, yg tlah memperlihatkan seolah raga tanpa nyawa, seonggok tubuh tiada berjiwa, yg ntah kemana damai itu dibawanya yg tlah menghapuskan segala gelak tawanya…
Tak lagi menggenangkan limpahan arti dan makna, tak lagi menanti terbit yg selalu gantikan warna hitam lembar langit. Hanya sirnakan harap yg kian menghimpit dikala rona cinta semakin terjepit. Yg begitu sulitnya menata hati, seiring suara hatinya di hujung torehan jemari yg tak kunjung temui cinta sejati. Hingga di sebuah nyanyian suara hati di ambang penghujung desember ini, sang penyair menggantungkan penanya atas kepunahan cahaya kerinduan yg entah kemana berlari...
Karna denyut kerinduan sang bidadari enggan menyimpan rasa peduli, di penghujung nafas cintanya yg meredupkan suara hati, seolah menghidupkan sunyi dengan tiada merasa lagi, tak berharap diri, hingga jutaan kata yg tertatah, melata lata yg memenuhi sesalan diri...!
~ 281213 - 18.00 ~
JILID III
| RISALAH KATA | TANYA & TUKAS | RINDUKAN CINTA DENGAN ANUGRAHNYA |
| TENTANG RENUNGANKU | SAJAK INI UNTUK SEBUAH ALASAN |
| PADUKAN CINTA DENGAN BISMILLAH | TOREHAN KISAH |
| SENYUMANMU DALAM PUISIKU | WARNA SYAIRKU | THANK YOU ALLAH |
| KAGUM CINTA | MUNGKINKAH LANGIT SEDANG CEMBERUT | TERTAWA MENANGIS |
| SANG SENYUMAN ITU | SAMPAIKANLAH MAAFKU PADANYA |
| ANTARA MENANTI & MENUNGGU | TOREHANKU KAN BERCERITA PADAMU |
| TAK JELAS | TEKA TEKI RINDU | MENGHITUNG MAUT |
| KEBUTAAN MAKNA | KIBASAN SELENDANG BIRU SEMAKIN TAK KU KENALI |
--- --- --- --- --- --- --- --- ---
Jika yg ku torehkan membuat tak berkenan, maka
itu adalah sebagian kesia-siaan yg tak kusadari, mungkin menurutku benar, tapi
tidak menurut ukuran yg lain... Maka kubiarkan itu tetap ada, dan nanti akan
menjadi hal yg bisa kuhindari. Karna tiap kita punya batas kelemahanan yg
berbeda... Dan jika singgah mencumbu kembaraku rasa tak enak itu, kubiarkan
hinggap sejenak untuk selanjutnya kujadikan hikmah atas diriku sendiri...
Ttd : Ibnoe / Bang Regar, "WASSALLAM" @ 2013
MENU UTAMA PUISI
| JILID I | JILID II | JILID III | JILID IV | JILID V | JILID VI |
|BUKU HARIAN |
Bang Regar On :
http://www.facebook.com/sihar.net




No comments:
Post a Comment