*060214*
Ketika fajar masih mengirimkan embun pada terangnya, ingin ku namai engkau sebagai cinta tuk menerjemahkan segenap rasa yg menghitung kelopak rindu bermekaran. Karna kau adalah jantung yg mendenyutkan arti dari sekumpulan aksara yg ku tuangkan di dinding ini, yg sebagian tlah terbingkai dalam senyuman mu dan sebagian lagi kembali tersimpan dalam diam mu. Tetapi meski semuanya belum sempurna terurai, tanpa kau tahu tlah kupersiapkan sebuah tempat ternyaman yg kupunya untukmu, di sebuah ruang, tepat di dalam hatiku…
*060214*
Sedang engkau tetap disana, dalam diam yg beku, seperti layaknya semadi, hanya menyapa kala malam menjelang pagi. Ketika itu aku terlelap, ingin ku ubah mimpi menjadi dongeng, dimana kisahnya adalah sepasang merpati. Maka kuselipkan rindu, dari dalam anganku, diselanya tulisan bait puisi, agar engkau tahu bahwa dirimu kuat membelenggu sunyiku, lalu menyentuh jiwamu agar engkaupun merasakan damai seperti damaiku disini...
*070214*
Semburat merah mengawal pertanda jingga pada senja yg akan segera menangkup malam, bersamaan dengan mentari yg kan segera tenggelam di ufuk barat. Dan aku iklas memilih waktu yg sama, menunggumu di sudut senja ini, seiring gerak-gerik tanganku yg memahat waktu dalam torehan penaku. Sementara dalam pahatan waktu yg berjelaga, ku akui masih menyisakan selaksa lara yg tak kunjung purna, walau rindu masih bersemayam di kedalaman senyuman ini. Karna kita memang tak bicara, tetapi aku selalu menulisinya untukmu, tuk memagut pesan dibias puisiku, bersama doa yg mengalir di tiap sudut kerinduan ku...
*070214*
Menjadi bagian malam, kala sunyinya menjadi syahdu, sedikit gerah namun tetap diam membisuku. Terkadang melintas prasangka, walau aku tak suka menanamnya. Baiknya kucabut agar tak lama membekam dipikiran, dan kucari damai hati disela kelam dalam sendiriku. Malamku bagai perahu yg berlayar sendiri, kadang menjadi dayung, layar terkembang, nahkoda, dan kadang hanya melihat ombak disekeliling menerpa...
*080214*
Ketika sudah menjadi kata-kataku, aku selalu kuat merealita, selalu ingin menjadikannya pemompa semangatku, tidak sekedar terkatakan, namun juga mewujud di kenyataan. Kataku adalah sebagian kata hati, sebagian suara jiwa, dan sebagian lagi membawakan alam rasa. Maka jika dalam sebagian kata-kataku menurutmu salah, itulah kelemahan yg melingkupi diri ini, karna kataku bukanlah sebagai sabda SANG PENCIPTA...
*100214*
Aku terjaga dari tidurku, manakala ingatanku padamu kuat dalam benak, sedang kutahu bahwa itu bukanlah mimpi. Ketika aku menjadi rindu, maka yg kutatap adalah gambarmu, karna malam ini ku tak mampu melukismu dengan penaku. Aku hanya mampu menciptamu dalam angan, karna engkau bersembunyi dalam hatiku paling dalam. Lalu menjadi teduh, manakala seraut wajahmu melintas menatapku, dengan seulas senyum manis, dan tatap lembut mendamaikan...
*100214*
Runtuhnya tingkatan tujuh langit terguncang oleh pecahan asteroit putaran planet yg berbenturan pertanda dunia berakhir. Mentari timur berubah ke barat, bumi nan elok hancur, kehidupan entah kemana. Wahai Zat yg menciptakan dan menghancurkan, tentunya Engkau beri awal berujung akhir, beri aku akhir sebaik akhirMU...
*110214*
Jika angan-angan itu bisa di beberkan, maka jumlahnya akan melebihi bintang-bintang dilangit, menginat hasrat manusia yg tak pernah berhenti. Apa arti sejuta angan-angan tanpa asa...? Sama halnya sejuta bintang tanpa cahaya...
*140214*
Alam selalu jujur pada kita, namun kadang kita yg terlambat untuk tahu, walau akhirnya mengerti juga. Kita tak pernah tahu proses di kedalaman bumi, tahunya setelah beberapa gunung meletus, dampaknya luar biasa, dan itu salah satu proses tentang kuasa-NYA. Seperti letusan gunung, aliran lahar, abu vulkanik menutupi, juga gempa, sebuah prosesi dimana Tuhan Maha Perkasa, sedang kita hanya mampu berlindung menghindari debu...
Ketika fajar masih mengirimkan embun pada terangnya, ingin ku namai engkau sebagai cinta tuk menerjemahkan segenap rasa yg menghitung kelopak rindu bermekaran. Karna kau adalah jantung yg mendenyutkan arti dari sekumpulan aksara yg ku tuangkan di dinding ini, yg sebagian tlah terbingkai dalam senyuman mu dan sebagian lagi kembali tersimpan dalam diam mu. Tetapi meski semuanya belum sempurna terurai, tanpa kau tahu tlah kupersiapkan sebuah tempat ternyaman yg kupunya untukmu, di sebuah ruang, tepat di dalam hatiku…
*060214*
Sedang engkau tetap disana, dalam diam yg beku, seperti layaknya semadi, hanya menyapa kala malam menjelang pagi. Ketika itu aku terlelap, ingin ku ubah mimpi menjadi dongeng, dimana kisahnya adalah sepasang merpati. Maka kuselipkan rindu, dari dalam anganku, diselanya tulisan bait puisi, agar engkau tahu bahwa dirimu kuat membelenggu sunyiku, lalu menyentuh jiwamu agar engkaupun merasakan damai seperti damaiku disini...
*070214*
Semburat merah mengawal pertanda jingga pada senja yg akan segera menangkup malam, bersamaan dengan mentari yg kan segera tenggelam di ufuk barat. Dan aku iklas memilih waktu yg sama, menunggumu di sudut senja ini, seiring gerak-gerik tanganku yg memahat waktu dalam torehan penaku. Sementara dalam pahatan waktu yg berjelaga, ku akui masih menyisakan selaksa lara yg tak kunjung purna, walau rindu masih bersemayam di kedalaman senyuman ini. Karna kita memang tak bicara, tetapi aku selalu menulisinya untukmu, tuk memagut pesan dibias puisiku, bersama doa yg mengalir di tiap sudut kerinduan ku...
*070214*
Menjadi bagian malam, kala sunyinya menjadi syahdu, sedikit gerah namun tetap diam membisuku. Terkadang melintas prasangka, walau aku tak suka menanamnya. Baiknya kucabut agar tak lama membekam dipikiran, dan kucari damai hati disela kelam dalam sendiriku. Malamku bagai perahu yg berlayar sendiri, kadang menjadi dayung, layar terkembang, nahkoda, dan kadang hanya melihat ombak disekeliling menerpa...
*080214*
Ketika sudah menjadi kata-kataku, aku selalu kuat merealita, selalu ingin menjadikannya pemompa semangatku, tidak sekedar terkatakan, namun juga mewujud di kenyataan. Kataku adalah sebagian kata hati, sebagian suara jiwa, dan sebagian lagi membawakan alam rasa. Maka jika dalam sebagian kata-kataku menurutmu salah, itulah kelemahan yg melingkupi diri ini, karna kataku bukanlah sebagai sabda SANG PENCIPTA...
*100214*
Aku terjaga dari tidurku, manakala ingatanku padamu kuat dalam benak, sedang kutahu bahwa itu bukanlah mimpi. Ketika aku menjadi rindu, maka yg kutatap adalah gambarmu, karna malam ini ku tak mampu melukismu dengan penaku. Aku hanya mampu menciptamu dalam angan, karna engkau bersembunyi dalam hatiku paling dalam. Lalu menjadi teduh, manakala seraut wajahmu melintas menatapku, dengan seulas senyum manis, dan tatap lembut mendamaikan...
*100214*
Runtuhnya tingkatan tujuh langit terguncang oleh pecahan asteroit putaran planet yg berbenturan pertanda dunia berakhir. Mentari timur berubah ke barat, bumi nan elok hancur, kehidupan entah kemana. Wahai Zat yg menciptakan dan menghancurkan, tentunya Engkau beri awal berujung akhir, beri aku akhir sebaik akhirMU...
*110214*
Jika angan-angan itu bisa di beberkan, maka jumlahnya akan melebihi bintang-bintang dilangit, menginat hasrat manusia yg tak pernah berhenti. Apa arti sejuta angan-angan tanpa asa...? Sama halnya sejuta bintang tanpa cahaya...
*140214*
Alam selalu jujur pada kita, namun kadang kita yg terlambat untuk tahu, walau akhirnya mengerti juga. Kita tak pernah tahu proses di kedalaman bumi, tahunya setelah beberapa gunung meletus, dampaknya luar biasa, dan itu salah satu proses tentang kuasa-NYA. Seperti letusan gunung, aliran lahar, abu vulkanik menutupi, juga gempa, sebuah prosesi dimana Tuhan Maha Perkasa, sedang kita hanya mampu berlindung menghindari debu...

*150214*
Mungkin sebagian kita berkata ini derita, ini musibah dari-NYA, atau ini bencana yg menimpa sebagian kita. Bersabarlah saudaraku, harta dan derita yg menimpa adalah bukan pilihanmu, ini yg membuka hati, tengadah pada kebesaran-NYA. Bahwa Tuhan bersabda melalui alam masih tentang harmoni, dalam letusan gunung dan tumpahan vulkanik, namun belum ketika gunung beterbangan bagai anai-anai...
Mungkin sebagian kita berkata ini derita, ini musibah dari-NYA, atau ini bencana yg menimpa sebagian kita. Bersabarlah saudaraku, harta dan derita yg menimpa adalah bukan pilihanmu, ini yg membuka hati, tengadah pada kebesaran-NYA. Bahwa Tuhan bersabda melalui alam masih tentang harmoni, dalam letusan gunung dan tumpahan vulkanik, namun belum ketika gunung beterbangan bagai anai-anai...
HALAMAN 1



No comments:
Post a Comment