MENGENANG MU
ADALAH RASA YG TAK LAGI KU PUJA
Sayup terkuak nyanyian sang mendung…
menutup mata pada kelopak hendak merundung…
apakah matahari sempatkan sengatkan bara…?
pada qalbu yang mengejang gigil dalam lara…!
Sebait syair yg kuhempas lalu…
tak ingin kudengar menyakitkan rindu…
terkadang pada sesenggukan tertahan…
semacam petir bersembunyi di singgasana gemawan…
Tak terlihat namun menyimpan ratusan ribu goresan…
kuhempaskan punggung menengadah suram…
terlempar kenang ketika kau katakan…
ada cinta megah menghampiri tapi lirihmu kusam…
Warnanya bukan biru, tapi merah kehitaman…
menyelip bagai air menggagas kotor pada pori bebatuan…
ku seka dengan bening air agar coba tak pedulikan…
ini yang kutakutkan wajah cinta semakin buram…
Tapi hatiku merona seolah dedaunan…
bak mengambang di tepi kolam yg tenang…
terdiam, tapi tenang, ujarku hapus kerinduan…
dan kini tak usah kalian sembabkan mata…
tuk berbilang, hari, bulan, maupun tahun…
cinta luar biasa bak cerita bulan purnama...
terang di malam hari, siang lenyap dalam surya…
maka lepaslah semua, tuk tenang di alam syurga…
Langkahku yg berhenti dalam perlambatan sekejap…
menyadarkan LAYAT pada kini berkesan silam…
menoktah bekas meski dia telah lenyap…
jejak itu nyata mengusung kelam...
maka tenanglah disana di alam syurga nyata…
Tak mengapa walau kau pernah bunuh cinta ku didada…
Yg memakan khuldi lahirkan buah tak berdosa…
Pergilah damai… aku tersenyum tuk usai waktu mu…
aku pasrah dan berdoa untuk keabadian mu…
dan aku tahu… perjuanganku telah berakhir...
yg masih menimang jasad cinta getir…
dalam sadar, dalam kelu, kuturuni tangga langkahku…
Dalam tatih tertahan di KOTA MEDAN…
rasa sayup terdengar nyanyian jiwa perih…
paksa aku tuk ikuti tempo sendu menari…
walau mengenang mu adalah rasa yg tak lagi ku puja…
By Ibnoe @ Medan, 20 Feb 2010


http://www.facebook.com/sihar.net


No comments:
Post a Comment