BUKU HARIAN I

Segala-Mu yg tlah memberi kesempatan dimalam ini, melalui perantara atas sebuah lupa diri yg tak seharusnya. Dalam langkah menjamah bayu biru. Khusus atas ku mengharap kehadiran-Mu yg ku cinta. Dekap-Mu meringankan segala gelisah di dada, tanpa-Mu, ku tak ada. Karna Engkau kekasih sejatiku. Sebelum aku sadar, kau sudah berada dekat dan sangat dekat. Setelah sesak, Kau bangunkan aku lagi, agar menatap masa depan dan kematian...
 
Terkadang niatan dan proses perjalanannya tak menjadi peristiwa. Rencana yg tertanam dalam anganpun tak berbuah nyata, sebab hal tak terduga seringkali muncul diselanya. Dia menunda angan dan rencana atau bahkan membuyarkan segalanya. Itulah kehidupan berbatas waktu, banyak kehendak membentur, melebur dan berproses. Butuh kekuatan untuk mewujudkan dan merangkai peristiwa sesuai rencana dan angan kita...

Ketika engkau diatas awan dan barisan mendung disekitarmu, dibawahmu jarak pandang mengecil, dan hanya tampak luasnya sawang membentang. Ini angkasa, kita tak berpijak namun bisa dilewati dan kita ada. Belum lagi disana tempat yg makin jauh dgn bumi yg kita diami. Kita ternyata bukan apa-apa, semua luruh dalam kebesarannya, karna semakin tinggi sawang, semakin kecil kita diperlihatkan olehnya tentang kuasa...

 
Ada yg tak terganti disepanjang hidup kita, adalah ketulusan dan kasih sayang tanpa pamrih yg tlah kau curahkan, ibu... Ada yg tak mudah kita pahami, tentang fitrah perjuangan, pengorbanan, kedamaian, dan cinta yg tlah kau tunjukkan bersama waktu yg terlewat demi anakmu, dalam kesederhanaan jiwa yg tak kenal lelah. Maka mengingatmu tidaklah sederhana, karna engkau hadir disepanjang usia, dalam bahagia dan dukalara...

Sesudahnya timbul gundah, jika yg tertambat adalah kegalauan, sedangkan mengusirnya butuh pengalihan pikiran. Maka buang saja jika itu selalu mematri angan, yg kita butuhkan adalah kepastian walau nampak semu, walau dia hanya bersemayam dalam rasa. Dan buatlah indah itu bagai tembang yg mengalun lirih, selalu kau senandungkan, karna bait-bait syair dan liriknya menggugah jiwa dan rasa, atau malah sebaliknya dengan rasa yg berbeda...


Jika pertemuan itu tlah berlalu, mungkin yg kita punya tinggal kenangannya yg terpatri, dimana senyum, raut wajah, gerak tubuh atau lambaian tanganpun seolah abadi di sanubari. Dan kita tak pernah bisa tau tentang takdir akan pertemuan dan perpisahan. Hanya bisa berusaha menangkap dan memberi arti, pada hal-hal yg sedang terjadi dengan seberapapun kecilnya...

Jengah ketika senja, ketika diri ini utuh dalam lamunan penyatuan cipta-Nya, hingga terkadang enggan untuk membelah tiap anasir kehidupan yg menopangku begitu lama. Dari ketika jasad tercipta, tanah adalah awal mula sabda-Nya dan menjadikan air sebagai kelanjutan kehidupan, lalu tiupan ruh oleh-Nya, lalu dinyalakan api sebagai pelengkap dan menjadi utuh hidup ini. Maka kurenungi tiap anasir, mana yg menguatkan, mana yg melemahkan, agar dia selalu seimbang, tak begitu lemah dan tak sangat kuat, karna aku takut tak mampu menundukkan...

Kadang engkau terlintas, kadang hilang sebelum kutatap utuh, dan kadang terbengkelai bersama kesibukan, tercampak terlenakan. Tapi jauh dilubuk hati, tetap tersimpan dirimu, yg muncul bersama lagu, bersama suasana dan nuansa di tempat yg kutatap, menjadi kehadiran yg kuat bahkan rindu. Dan tak bisa dipungkiri dalam kedekatan apapun, dia tak mudah dilupakan, dia selalu ada sepanjang kasih sayang tak berubah jd kebencian...

Kantukku dan kantukmu mungkin berbeda, kantukku adalah rasa yg tak tertahan, manakala jiwa dan raga lelah, angan seperti terasa kosong, memory pun sudah sulit untuk sinergi dalam tujuan. Maka saatnya istirahat, melerai semua asa dan aktivitas, tidak ingatan yg tersaji menjadi kehendak, melainkan damai dalam temaram mimpi, dipulasnya tidur walau sejenak. Mari menjelang tengah malam ini, memupus kemampuan bertahan dalam terjaga, adakalanya kita menyerah kalah, demi menjaga harmoni jiwa raga...

Rembulan separoh memancar, dibawa waktu edar dimana sebagian tertutup kerucut bumi, menjadi redup temaram mayapada, dan yg sebagiannya jadi gulita dan udara malam ini tetap menggigilkan rasa. Bagai engkau datang membawa dirimu, dimana sebagian ceria kudapatkan, sebagiannya lagi menjadi lelah tertinggal dalam perjalanan waktu. Dan aku pahamkan atas diriku, bahwa kita sungguh tak sempurna, melainkan hanya dia pemilik kesempurnaan itu...

Pagi tadi, semu merah jingga semburat di cakrawala, menampakkan siluet ilalang yg indah dan seperti hendak menjangkau langit, dalam gemulai geraknya diterpa angin pagi. Kekagumanku, engkau seperti terkucilkan diantara tanaman yg lainnya, namun juga mampu mengalahkannya. Engkau seperti simbol ketegaran dan kekokohan bertahan dalam kehidupan, meski hanya urat-urat mengerucut, diujungnya sering tampak bulir embun hendak menetes. Maka ilalang, menyampaikan pesan bahwa kehidupan selalu disandingkan, diantara cara bertahan yg engkau siratkan, dan kekokohan dalam menjalani waktu untuk tetap lestari, walau engkau sering dihina diantara mereka...

Diantara banyak tanda tanya yg lalu lalang dalam benak kita, selalu butuh pemenuhan jawaban, pasti demi sebuah kepuasan... Hidup sering dipenuhi hal tak pasti, itu menurut kita. Hidup juga dipenuhi keraguan, itulah kelemahan kita, padahal dikehendak-nya adalah serba pasti... Mari kembalikan saja pada hukum-nya berpasrah diri atas semua yg sudah terlaksana, karna esok bisa berarti imbalan, atau proses selanjutnya...



"HALAMAN 01"

BUKU HARIAN JILID - I

HALAMAN : > 01 > 02 > 03 > 04 > 05 > 06 > 07 > 08 > 09 > 10 > 11 > 12 > 13 > 14 > 15

Bang Regar





No comments:

Post a Comment

Viewers