BUKU HARIAN VI

Kupungut penaku di dataran senja, dalam asa yg menggamit rasa kubasuh dengan senyuman sukacita. Kutorehkan tetesannya dengan sepenggal kisah silam, dalam lantunan lantunan mazazi sastra dan nuansa... Untuk kau baca dan kau petik hikmahnya...

Rasa di balik rasa, terkumpul dan melebur menjadi sebuah rasa... Rindu dalam tanda tanya... Jika di tanya siapa... Entah lah...!!!

Apalah arti sebuah syair, bila si pemilik senyum itu enggan hadir... si penyair hanyalah pengukir yg terhimpit sedikit rasa manis namun bertabur pahit dan getir...

Biar saja angin bernyanyi... Biar awan yg menilai kemana angin itu bertiup... Yg jelas bumi adalah tempat berpijak... Meskipun langit malam ini tampak mendung...

Tulisalah sesuatu tentang dirimu, dari hatimu, untuk yg kau tuju, "Mencoba untuk mengenali mu, melalui tulisan mu"...


Mematangkan keyakinan atau takdir menulis lain, demi memudahkan satu pelangi sebagai sebuah jembatan agar tidak menggalau dari arena pacuan gairah semata. Teruntuk mejadi lafas fasih di hadapan cinta ciptaan Illahi... Insya Allah...

 
Ketika hari membimbing dengan sempurna, langkah akan membingkai semua warna tentang tulusnya cinta. Dengan sujud dan doa yg kau hantarkan dan dalam heningnya tahajjud atas segala yg ku rindukan adalah kesabaran dalam menanti yg meyakini janji-Nya adalah pasti...

Apa yg kau kiaskan…? Bila semua pekik menampar kata… dan semua gerik akrab menatap sandiwara… sekalipun memanggil sekembalinya… terucap bimbang yg mengharap jiwanya... Seolah meminta menari dengan sejuta warna luka…

Duduk di tepian jalan, diantara lalu lalang manusia, ada yg jalan kaki, ada yg berkendara, dengan membawa niatan dan tujuan masing-masing. Itulah kehidupan bergerak, bertujuan, mendapatkan lalu pulang, dan bergerak lagi terus berkelanjutan. Yg ku tangkap hanya realitanya, belum lagi lalu lalang alam fikiran, gelombang, dan yg diperjalankan ketika kita hening terlelap lalu berpindah alam. Semua nyata dan mudah bagi-Nya...


Hujan di tengah hari, tak terlalu deras, tanpa angin dan diluar rumah menjadi setengah redup. Tetesan hujan di dedaunan menyuarakan khas titik air berjatuhan. Dingin dan nuansanya seperti mengajakku kembali pada masa lalu. Masa dimana hujan adalah idaman, karna bisa berlarian tak berbaju, masa dimana hujan adalah suasana nikmat kala sendiri di gubuk persemayaman, masa dimana ketika hujan terlelap dalam tidur siang yg nyaman, dan ketika rinai gerimis kulihat tawa dan senyum berlarian dengan riang. Ribuan kisah ketika hujan, selalu hadir dan tersaji dalam ingatan kita masing-masing. Entah ini hujan yg ke berapa. Yg pasti tak terhitung olehku, ingatan itu kembali hadir dan seperti kemarin baru terjadi...

Malam ini desember ketujuh, gerimis tak henti dalam hening dan ingatan ku menerawang menyusuri bilik masa silam. Sejenak ku biarkan ingatan itu melayang dalam gerimis, dan ku biarkan dia mengembara, karna hanya angan yg bisa menjelajah ruang dan waktu. Lalu tak ingin ku biarkan bayang itu terlalu lama mencumbu kembaranya, walau seraut wajah, seulas senyum, secuil peristiwa masih tergambarkan dengan jelas...

Bergelayut di ujung jemari pada torehan suara hati yg menanti dekapan dengan masih ingin bermimpi, menemukan detak lemah pada kecemasan yg membuncah bersama tatapan mentari yg meninggalkan titik titik kehangatan pada rindu. Dan kerjab cahaya menandai sukacita dengan meminjam sebentar selimut waktu agar kehangatan hadir walau samakan diri layaknya pepohonan berpelepah yg dijari jemari mengalir disegenap nadi. Maka gerak diam yg kian membeku menjadi saksi pilu dihamparan gersang penuh gejolak tak berkesudahan...


Pada butiran air hujan di siang ini, semoga ada dingin yg merubah suasana dalam kesejukan-Mu, dimana tiap tetesnya mampu menundukkan hati yg gundah. Dan pada angin yg berhembus menyertai, semoga punya sumbangsih dalam mengalahkan pikiran penuh syakwasangka, ketika gejolak memanas tak padam. Di gemricik irama tetesan air jatuh, diam dalam suasana hujan, dia menjadi pertanda bahwa nikmat-Nya sedang tercurah, rizki-Nya sedang terlimpah, dan keberkahan-Nya nyata ada...

Terkadang susah juga memaknai apa yg sedang terjadi, kalaupun bisa butuh waktu dan biasanya sudah terlewat ditelan masa, itulah tanda dan pesan dari-Nya yg sering kita tak tanggap. Misteri itu terjadi mungkin karna kita kurang sungguh-sungguh bertanya pada-Nya, kita tak peduli akan tiap hal yg terlintas dan juga kita sering kurang peka dalam tiap kejadian dan suasana. Ajari aku untuk selalu bisa menangkap, belajar dan menggunakan tiap yg Engkau surat dan siratkan dalam hukum-Mu, dan maaf jika aku sering kurang peka pada-Mu...



Jika yg ku torehkan membuat tak berkenan, maka itu adalah sebagian kesia-siaan yg tak kusadari, mungkin menurutku benar, tapi tidak menurut ukuran yg lain... Maka kubiarkan itu tetap ada, dan nanti akan menjadi hal yg bisa kuhindari. Karna tiap kita punya batas kelemahanan yg berbeda... Dan jika singgah mencumbu kembaraku rasa tak enak itu, kubiarkan hinggap sejenak untuk selanjutnya kujadikan hikmah atas diriku sendiri... 


"HALAMAN 06"


BUKU HARIAN JILID - I

HALAMAN : > 01 > 02 > 03 > 04 > 05 > 06 > 07 > 08 > 09 > 10 > 11 > 12 > 13 > 14 > 15

By Ibnoe (Bang Regar)

http://siharkomputer.blogspot.com/2009/12/bukuharian.html




No comments:

Post a Comment

Viewers