*290114*
Siang ini mentari bertahta megah di atas singgasananya dan dengan bertintakan sastra, bertangkaikan bahasa, kembali kupersembahkan kata ini untukmu. Beberapa kata dalam aksara yg bertukar bentuk, menjadi bahasa, melirikkan inti sukma dan buah fikir yg tersusun oleh getaran-getaran rasaku untuk bisa menemukanmu kembali dihujung senja nanti. Dan aku masih setia menanti dan menghitung jajaran senja tuk mengemas seluruh gemuruh rindu, sebuah rahasia yg tersembunyi dalam jutaan kata, yg berkumpul di teluk jiwa di taman fikirku, lalu terlahir sebagai ungkap hati… untukmu…
*290114*
Sore menjelang malam, dan aku melihat mentari masih rela mengintip di ufuk senja. Sepertinya ia sedang mengumpulkan serpih-serpih rindu yg mungkin tlah terhapuskan oleh jejak-jejak hujan sebelumnya. Dan sejenak aku mampu merasakan canda tawamu, sebuah senyuman yg tlah lama tak kusaksikan. Tetapi terlintas begitu cepat, karna seketika sejenak aku mengedipkan mata kaupun menghilang ntah kemana. Apakah esok kau masih sudi datang kembali…? hanya waktu yg mampu menguraikannya. Dan aku hanya bisa berharap dalam penantian yg segera akan kembali mengusung kesunyian malam, di dalam lubuk hati yg sedang merindukanmu. Tetapi, siapa yg tahu…
*300114*
Sepertinya malam ini tampak akan kembali menyuapkan mimpi, saat kutatap rembulan sekarat, membiaskan keresahan pada mendung yg kembali hadir. Tetapi haruskah kubunuh rindu ini yg mengangkara di relung qalbu...? Saat senja tadi baru saja menguraikan warnanya, membiaskan baris-baris rasa yg kembali meninggalkan jejaknya. Sementara di batas langit malam tlah jelas terbaca dan waktu pun tak pernah surut ke belakang, hingga jarak sepertinya masih akan terus terbentang bersama terlihatnya wajah langit yg pucat dalam pekatnya malam...
Siang ini mentari bertahta megah di atas singgasananya dan dengan bertintakan sastra, bertangkaikan bahasa, kembali kupersembahkan kata ini untukmu. Beberapa kata dalam aksara yg bertukar bentuk, menjadi bahasa, melirikkan inti sukma dan buah fikir yg tersusun oleh getaran-getaran rasaku untuk bisa menemukanmu kembali dihujung senja nanti. Dan aku masih setia menanti dan menghitung jajaran senja tuk mengemas seluruh gemuruh rindu, sebuah rahasia yg tersembunyi dalam jutaan kata, yg berkumpul di teluk jiwa di taman fikirku, lalu terlahir sebagai ungkap hati… untukmu…
*290114*
Sore menjelang malam, dan aku melihat mentari masih rela mengintip di ufuk senja. Sepertinya ia sedang mengumpulkan serpih-serpih rindu yg mungkin tlah terhapuskan oleh jejak-jejak hujan sebelumnya. Dan sejenak aku mampu merasakan canda tawamu, sebuah senyuman yg tlah lama tak kusaksikan. Tetapi terlintas begitu cepat, karna seketika sejenak aku mengedipkan mata kaupun menghilang ntah kemana. Apakah esok kau masih sudi datang kembali…? hanya waktu yg mampu menguraikannya. Dan aku hanya bisa berharap dalam penantian yg segera akan kembali mengusung kesunyian malam, di dalam lubuk hati yg sedang merindukanmu. Tetapi, siapa yg tahu…
*300114*
Sepertinya malam ini tampak akan kembali menyuapkan mimpi, saat kutatap rembulan sekarat, membiaskan keresahan pada mendung yg kembali hadir. Tetapi haruskah kubunuh rindu ini yg mengangkara di relung qalbu...? Saat senja tadi baru saja menguraikan warnanya, membiaskan baris-baris rasa yg kembali meninggalkan jejaknya. Sementara di batas langit malam tlah jelas terbaca dan waktu pun tak pernah surut ke belakang, hingga jarak sepertinya masih akan terus terbentang bersama terlihatnya wajah langit yg pucat dalam pekatnya malam...
*300114*
Tahukah kau…? Rinduku seperti pohon-pohon di hutan belantara, yg tak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Meski musim selalu berganti dan waktu terus saja berlari namun pada putaran musim yg masih tersisa, selalu menyisakan keheningan yg perlahan menyusup dalam celah malam. Karna rinduku adalah doa yg tak pernah alpa ku rapal diam diam untukmu, dalam bentuk ikhlasku dengan atau tanpa kau ketahui nantinya…
*300114*
Jangan lagi kau berikan makna buram di sepotong kisah yg ku torehkan. Karna itu takkan bisa mengakhiri mendung, walau sesungguhnya kita takkan pernah tahu kapan kemarau kan tiba. Tetapi setiap harinya kita melihat, ada beberapa helai daun yg rebah ke tanah, dan anginlah yg bertiup tak tentu arah karna masih setia mengabarkan gelisah, sehingga tak ada lagi tegur sapa, tak ada lagi gelak tawa, hanya tersisa jejak cakrawala yg perlahan kian pudar warnanya. Dan jika nanti waktu tak akan memberi banyak waktu lagi untuk kita, bukankah ada yg menyimpan kisahnya sendiri...? Seperti sunyiku yg masih setia menyimpan torehan kisah rindu ini. Karna tanpa kesunyian, keramaian bukanlah apa-apa...
*300114*
Semburat merah yg mengawal pertanda jingga, tiba-tiba menghilang sebelum senja tertangkup malam, dan tanpa perlahan gelayut awan mendung menenggelamkan mentari sebelum ia sampai di ufuk barat. Tetapi aku iklas memilih waktu yg sama, menunggumu di sudut senja yg gerimis, seiring gerak-gerik tanganku yg memahat waktu dalam torehan penaku. Sementara dalam pahatan waktu yg berjelaga, ku akui masih menyisakan selaksa lara yg tak kunjung purna, walau rindu masih bersemayam di kedalaman senyuman ini. Karna kita memang tak bicara, tetapi aku selalu menulisinya untukmu, tuk memagut pesan dibias puisiku, bersama doa yg mengalir di tiap sudut kerinduan ku...
*300114*
Malam kian larut, sementara gerimis di luar kian membekukan muram, ketika tampak wajah sayu terbaring tak berdaya di ranjang bisu yg tak lagi mampu sembunyikan letihnya. Bukan merajut kesunyian karna di sisinya cairan bening tergantung menetes ritmik satu-satu mengalir ke dalam selang yg tertancap di tangannya, disebuah kamar putih yg terkurung dalam dingin ruang, yg seakan menebarkan aroma maut. Tak ada suara, hanya gumam lirih setangkup doa di sekelilingnya, dalam sebuah harapan untuk sebuah kesembuhan, yg mencoba bertarung melawan kecemasan, yg menyerbu menyesaki hingga ke lorong qalbu…
*310114*
Ketika mentari meretakkan sunyi siang hari, ada air didalam awan putih berbentuk hati, mewarnai birunya langit tetapi masih menandai segala bebanmu. Yg entah karna masih berbalut ego atau karna terlalu merinai air mata. Bak mengais bongkahan cerita yg hampir terhapus waktu, dalam mencari sepotong makna sejati, yg terus saja membenarkan sejumput keresahan yg enggan pergi, diantara duka yg tanpa menatap ke dalam cermin diri. Bukankah siang ini teriknya sungguh hebat, menceritakan mentari gagah bertengger tanpa tiang yg sesungguhnya membawa pesan kering. Dan masih saja kudengar langkah mu tak bergegas dari letih melunta yg kian mengeras dalam kegalauan. Maka jika semua seakan habis di makan panasnya, biar ku kantongi sejuk-sejuk dari daun cemara. Untuk sebuah bekal menapaki panas, agar aku tak terbakar di bawah siang, walau kita belum bisa tahu apa yg kan terjadi pada senja sebentar lagi…
*010214*
Kembali aku katakan tentang laut, ketika tenang dengan riak ringan, mendamaikan, dan indah kala lembayung jingga di ufuk cakrawala. Dan tlah ku simpan gemuruhmu, ombakmu, keluasanmu, kedalamanmu juga indahmu, karna pada lautan aku belajar tentang arti kehidupan. Maka rinduku padamu ini, bagai ombak kala menjadi riak, menerpa ujung kaki bersama butiran lembut pasirmu, lalu luruh di tepian pantai...
*010214*
Dibalik dinding malam yg sepi, aku tlah menyelipkan sepucuk surat untukmu, dia adalah kata yg bersajak dalam rindu, berharap gelap tersucikan dengan datangnya keagungan pagi. Tetapi andai kau tak membacanya, tlah kutinggalkan duka pada langit malam, hingga cahaya pagi melebur dan menggantinya dengan ribuan asa baru, bersama tetes embun usai gerimis nanti…
Tahukah kau…? Rinduku seperti pohon-pohon di hutan belantara, yg tak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Meski musim selalu berganti dan waktu terus saja berlari namun pada putaran musim yg masih tersisa, selalu menyisakan keheningan yg perlahan menyusup dalam celah malam. Karna rinduku adalah doa yg tak pernah alpa ku rapal diam diam untukmu, dalam bentuk ikhlasku dengan atau tanpa kau ketahui nantinya…
*300114*
Jangan lagi kau berikan makna buram di sepotong kisah yg ku torehkan. Karna itu takkan bisa mengakhiri mendung, walau sesungguhnya kita takkan pernah tahu kapan kemarau kan tiba. Tetapi setiap harinya kita melihat, ada beberapa helai daun yg rebah ke tanah, dan anginlah yg bertiup tak tentu arah karna masih setia mengabarkan gelisah, sehingga tak ada lagi tegur sapa, tak ada lagi gelak tawa, hanya tersisa jejak cakrawala yg perlahan kian pudar warnanya. Dan jika nanti waktu tak akan memberi banyak waktu lagi untuk kita, bukankah ada yg menyimpan kisahnya sendiri...? Seperti sunyiku yg masih setia menyimpan torehan kisah rindu ini. Karna tanpa kesunyian, keramaian bukanlah apa-apa...
*300114*
*300114*
Malam kian larut, sementara gerimis di luar kian membekukan muram, ketika tampak wajah sayu terbaring tak berdaya di ranjang bisu yg tak lagi mampu sembunyikan letihnya. Bukan merajut kesunyian karna di sisinya cairan bening tergantung menetes ritmik satu-satu mengalir ke dalam selang yg tertancap di tangannya, disebuah kamar putih yg terkurung dalam dingin ruang, yg seakan menebarkan aroma maut. Tak ada suara, hanya gumam lirih setangkup doa di sekelilingnya, dalam sebuah harapan untuk sebuah kesembuhan, yg mencoba bertarung melawan kecemasan, yg menyerbu menyesaki hingga ke lorong qalbu…
*310114*
Ketika mentari meretakkan sunyi siang hari, ada air didalam awan putih berbentuk hati, mewarnai birunya langit tetapi masih menandai segala bebanmu. Yg entah karna masih berbalut ego atau karna terlalu merinai air mata. Bak mengais bongkahan cerita yg hampir terhapus waktu, dalam mencari sepotong makna sejati, yg terus saja membenarkan sejumput keresahan yg enggan pergi, diantara duka yg tanpa menatap ke dalam cermin diri. Bukankah siang ini teriknya sungguh hebat, menceritakan mentari gagah bertengger tanpa tiang yg sesungguhnya membawa pesan kering. Dan masih saja kudengar langkah mu tak bergegas dari letih melunta yg kian mengeras dalam kegalauan. Maka jika semua seakan habis di makan panasnya, biar ku kantongi sejuk-sejuk dari daun cemara. Untuk sebuah bekal menapaki panas, agar aku tak terbakar di bawah siang, walau kita belum bisa tahu apa yg kan terjadi pada senja sebentar lagi…
*010214*
Kembali aku katakan tentang laut, ketika tenang dengan riak ringan, mendamaikan, dan indah kala lembayung jingga di ufuk cakrawala. Dan tlah ku simpan gemuruhmu, ombakmu, keluasanmu, kedalamanmu juga indahmu, karna pada lautan aku belajar tentang arti kehidupan. Maka rinduku padamu ini, bagai ombak kala menjadi riak, menerpa ujung kaki bersama butiran lembut pasirmu, lalu luruh di tepian pantai...
*010214*
Dibalik dinding malam yg sepi, aku tlah menyelipkan sepucuk surat untukmu, dia adalah kata yg bersajak dalam rindu, berharap gelap tersucikan dengan datangnya keagungan pagi. Tetapi andai kau tak membacanya, tlah kutinggalkan duka pada langit malam, hingga cahaya pagi melebur dan menggantinya dengan ribuan asa baru, bersama tetes embun usai gerimis nanti…
"HALAMAN 15"




No comments:
Post a Comment